KOTAMOBAGU — AKBP Abdul Kholik, S.H., S.I.K., M.A.P., memilih pendekatan berbeda untuk mengetahui gambaran situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayahnya. Di sela kesibukan memimpin Polres Kotamobagu, ia duduk menikmati kopi bersama warga dan membuka percakapan ringan.
Tidak ada agenda rapat yang kaku dalam pertemuan itu. Warga yang biasanya harus datang ke kantor polisi atau mengikuti forum resmi untuk menyampaikan persoalan lingkungan kini bisa berbicara langsung.
Pertanyaan Sederhana yang Membuka Ruang Cerita
Di tengah obrolan, Abdul Kholik menyempatkan diri menanyakan kondisi kamtibmas. Pertanyaan itu menjadi pintu bagi warga untuk menyampaikan informasi, keluhan, hingga masukan soal situasi di sekitar mereka.
Suasana yang tidak terlalu formal membuat komunikasi berlangsung lebih terbuka. Hal-hal kecil yang mungkin luput dari perhatian dalam pertemuan resmi bisa muncul ke permukaan ketika warga merasa leluasa bercerita.
Rasa Aman Bukan Hanya Soal Kriminalitas
Persoalan keamanan yang dibahas warga tidak melulu berkaitan dengan peristiwa kriminal. Rasa nyaman saat meninggalkan rumah, ketenangan beraktivitas pada malam hari, hingga kepedulian antarwarga ikut menentukan rasa aman di lingkungan.
Abdul Kholik memilih jalur komunikasi langsung untuk mendapatkan gambaran kamtibmas dari sumbernya. Cara ini memperlihatkan hubungan polisi dan warga tidak harus terbangun hanya ketika ada persoalan hukum atau saat masyarakat butuh pelayanan di kantor kepolisian.
Warga Paling Tahu Perubahan di Lingkungannya
Di balik tuntutan tugas yang identik dengan kedisiplinan dan ketegasan, pertemuan santai menghadirkan sisi lain hubungan aparat dengan masyarakat. Seorang Kapolres tetap bertanggung jawab menjaga keamanan wilayah, tetapi mendengar cerita warga menjadi bagian yang tak kalah penting.
Warga merupakan pihak paling dekat dengan dinamika lingkungan tempat mereka tinggal. Mereka mengetahui perubahan suasana di sekitar rumah, mengenali persoalan sosial yang muncul, serta merasakan langsung ketika ketenangan mulai terganggu.
Informasi semacam itu bisa menjadi bekal awal bagi kepolisian untuk mengenali potensi gangguan keamanan sebelum berkembang menjadi persoalan lebih besar.
Kepercayaan yang Perlu Tumbuh di Luar Patroli
Pertemuan sambil menikmati kopi itu memang sederhana dan tidak menghasilkan agenda besar. Namun ruang komunikasi yang tercipta menunjukkan interaksi sehari-hari bisa menjadi pintu masuk membangun kedekatan polisi dan masyarakat.
Rasa aman tidak cukup dibangun hanya melalui patroli maupun penegakan hukum. Ada unsur kepercayaan yang perlu tumbuh agar warga tidak sungkan berbicara ketika menemukan persoalan di lingkungannya.
Di tengah obrolan santai bersama masyarakat, Abdul Kholik memperlihatkan satu cara sederhana menjaga komunikasi tetap terbuka: duduk bersama, menikmati kopi, dan memberi ruang bagi cerita warga.