SULAWESI UTARA — Robert dan Michelle King kembali ke genre hukum lewat serial "Cupertino" di CBS, membawa penonton ke pusat ledakan kecerdasan buatan di Silicon Valley. Pasangan kreator di balik "The Good Wife" dan "The Good Fight" ini menghadirkan Mike Colter dan Rachel Keller sebagai dua pengacara yang membangun firma kecil untuk melawan raksasa modal ventura.
Mike Colter memerankan Michael Price, seorang pengacara yang diperkenalkan saat ia tersingkir secara tidak adil dari startup AI tempatnya menjadi salah satu pendiri sekaligus penasihat hukum internal. Rachel Keller, yang dikenal lewat "Fargo" dan "Tokyo Vice", berperan sebagai Olivia Siffre, seorang asosiasi junior yang dipecat bersamaan sebagai pembalasan atas laporan pelecehan seksual.
Keduanya kemudian memutuskan mendirikan firma hukum kecil. Olivia digambarkan sebagai seorang Kristen taat yang keyakinannya mencolok di kawasan South Bay yang mayoritas sekuler. Latar belakang keduanya membentuk cara firma baru itu menangani kasus.
Premis dan Para Pemain
Serial ini menempatkan Michael dan Olivia sebagai pihak lemah yang berhadapan dengan kekuatan modal ventura yang tampak tak terbatas. Salah satu kolega Michael mengingatkan, "During the gold rush, don't sue the gold mine." Namun Michael melihat peluang, bukan altruisme, dalam menggugat korporasi besar.
Ia menganalogikannya dengan banjir. "You don't sell water. You sell the life jackets," ujarnya. Visi Michael adalah memposisikan firma barunya sebagai Daud yang melawan Goliath.
Tim ini dilengkapi Natalia Boutella, diperankan Busy Philipps, seorang perempuan kaya hasil perceraian bergaya MacKenzie Scott yang punya modal, dendam, dan gelar hukum yang menganggur. Ada pula investigator Christy yang diperankan Ella Stiller, warga lokal yang koneksi keluarganya ke kawasan itu jauh mendahului ledakan teknologi.
Pertanyaan Spiritual di Balik Kasus Hukum
Dalam beberapa episode pertama, jelas bahwa Mike Colter bukan satu-satunya nama yang terbawa dari set "Evil". Dengan memindahkan latar dari Chicago ke Silicon Valley di tengah ledakan AI, "Cupertino" berbenturan langsung dengan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat spiritual.
Bisakah mesin memiliki jiwa, atau bahkan kehendak bebas? Haruskah algoritma memerintah kita secara imparsial, seperti tuhan? Siapa yang bersalah atas dosa sebuah komputer? Seorang ahli mencoba berargumen di persidangan, "It's software, not Satan."
Robert dan Michelle King memang lama punya mata tajam untuk menyaring dan sedikit melebih-lebihkan absurditas kehidupan modern. Satu dekade lalu, "BrainDead" mengubah wacana politik menjadi kiamat zombie terselubung. "The Good Fight" menjadi satu-satunya satir era Trump pertama yang membuat fakta dan fiksi sama-sama aneh.
"Cupertino" sama cepat dan lucunya dengan pendahulunya, tapi di balik semua negosiasi itu ada ketulusan yang stabil. Sang kreator punya pertanyaan mendalam soal apa yang dilepaskan segelintir inovator bermodal besar ke seluruh dunia.
Kasus-kasus yang Diangkat
Kasus yang diambil Michael, Olivia, dan rekan-rekannya membaca seperti daftar topik hangat untuk debat makan malam. Kecerdasan buatan umum, perbedaan pendapat internal soal protokol keselamatan, rasionalis dan pecahan radikal seperti Zizians, psikosis AI, pasar prediksi, dan "pelatih" manusia semuanya menjadi inspirasi langsung atau tersirat untuk berbagai subplot.
"Cupertino" bergerak begitu cepat melewati materi itu. Kekhawatirannya, para penulis bisa kehabisan bahan. Tapi realitas terus menghasilkan cerita baru setiap hari.
Firma Michael dan Olivia tentu saja sebuah startup tersendiri. Mereka menghargai langkah jangka pendek. Tidak ada protagonis King, termasuk dan terutama anggota klerus, yang benar-benar suci. Michael dan Olivia bukan pengecualian.
Mereka mungkin berbagi skeptisisme terhadap AI, tapi strategi mereka adalah rencana bisnis, bukan perang moral. Mereka akan berpindah pihak di tengah argumen lisan jika perlu.
Serial ini menempatkan pertanyaan besar tentang teknologi dan etika dalam bingkai drama hukum yang cepat. Bagi penonton Indonesia yang mengikuti perkembangan industri hiburan global, "Cupertino" menawarkan cermin soal bagaimana Hollywood mulai menggarap tema AI dengan serius, bukan sekadar sebagai latar futuristik.