KOTAMOBAGU — Patroli humanis Polres Kotamobagu menyasar kawasan sekolah pada jam bubaran, menyusul kekhawatiran soal potensi perkelahian antarpelajar. Ipda Abdul Karim bersama personelnya menemui pelajar langsung di depan gerbang sekolah, bukan lewat razia atau tindakan represif.
Pendekatan yang dipilih berbeda dari operasi penertiban biasa. Petugas lebih banyak berbicara dari hati ke hati, mengingatkan pelajar untuk langsung pulang setelah sekolah dan tidak nongkrong di jalan yang berpotensi memicu gesekan antarsekolah.
Mengapa Polisi Pilih Pendekatan Humanis, Bukan Razia
Pelajar yang ditemui diimbau menjauhi tawuran dan perkelahian yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Mereka juga didorong mengisi waktu luang dengan kegiatan positif, mulai dari kegiatan ekstrakurikuler hingga aktivitas yang menunjang masa depan.
Menurut Ipda Abdul Karim, upaya pencegahan tawuran menyangkut masa depan generasi muda, bukan sekadar ketertiban harian.
"Mencegah tawuran bukan sekadar menjaga keamanan hari ini, tetapi menyelamatkan masa depan generasi bangsa," ujar Ipda Abdul Karim.
Polisi Minta Sekolah dan Orang Tua Ikut Membimbing
Kehadiran personel di lingkungan sekolah diklaim bagian dari upaya preventif menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di wilayah Kotamobagu. Polisi ingin posisinya diterima sebagai sosok yang dekat dengan pelajar, bukan sekadar penindak saat masalah terjadi.
Polres Kotamobagu juga mengajak pihak sekolah, orang tua, dan masyarakat untuk bersama-sama membimbing anak-anak. Harapannya, generasi muda tumbuh disiplin, berprestasi, dan menjauhi kenakalan remaja.
Langkah ini menempatkan pengawasan jam pulang sekolah sebagai titik rawan yang perlu dijaga bersama, tidak hanya oleh aparat kepolisian. Peran keluarga dan guru dinilai menentukan apakah imbauan di jalan akan berlanjut jadi kebiasaan di rumah dan sekolah.